Saya Hasan Efendi mengucapkan Selamat Hari raya Idul Adha 1438 H, Mohon maaf lahir dan batin. Saat ini Blog saya sedang dalam perbaikan,.Terima kasih telah menyempatkan waktu berkunjung ke www.portalfendi.net, kritik dan saran kalian sangat membantu perkembangan blog sederhana ini. Contact : HP/WA/telegram >> 085311908325[AS]

Anak Gaul Masa Kini Benar-benar “Gaul”

Publik di Bali hari ini dibuat terkejut dengan berita tewasnya dua siswa SMP yang mengendarai mobil menabrak Pohon hingga mobil Toyota 1st terbelah dua. Kejadian terjadi hari Jumat (28/10) pukul 01.00 dini hari sepulang dari Pesta Dugem temannya di Kuta.

Belum lama juga tersiar kabar heboh, adanya video panas dari seorang gadis SMP di Denpasar yang berhubungan suami istri dengan bule asal Australia di sebuah kamar hotel di Kuta.
Ada juga remaja bule asal Australia (14 thn) yang tertangkap membawa SS di sebuah salon dekat Legian, Kuta.

Rupanya remaja-remaja terbuai kenikmatan dunia mewabah bak virus yang menyebarkan epidemi “syahwat” terus menggelinding ke seluruh penjuru dunia. Di mana - mana, bukan pemandangan aneh, bila gadis SMP sudah berpacaran dan hamil di luar nikah, aborsi, bahkan sampai memderita HIV/AIDS!
Saya teringat masa remaja dulu. Di zaman Soeharto. Jangankan yang namanya SS, atau pacaran atau menyetir sendiri mobil mewah yang seharga 250 juta, bisa ke sekolah tidak terlambat saja sudah bersyukur.
Beda lagi dengan zaman perjuangan dan pergerakan, semua masih serba susah.

Saya teringat dulu betapa susah ibu saya mencarikan uang SPP buat saya dan adik-adik. Untuk itu, ibu bekerja menjadi tukang masak di sebuah Balai Latihan DIKLAT. Karena papa seorang PNS, gaji hanya cukup untuk makan, Bayar Listrik dan transport. Benar-benar susah!

Filosofi kesederhanaan !
Itulah yang hilang dari generasi sekarang. Minta apa saja, walau mobil 250 juta, no problem.
Sederhana , hanya menu utama yang boleh dibicarakan untuk keluarga miskin. Taruhlah sebuah contoh, seorang anak SMP setiap minggu diberi uang saku 500 ribu, yang nota bene, seharusnya itu uang sangat banyak bagi keluarga miskin. Pengeluaran untuk sekolah dan biaya belajar, pasti menyisakan uang lebih.
Disinilah peran lingkungan dan cara berpikir anak menentukan. Bila anak itu mendapat lingkungan teman senang dugem, merokok maka uang lima ratus ribu perak sangat kurang. Berbeda dengan cara berpikir anak yang mandiri dan paham susahnya mencari uang, bisa berbeda memakainya.

Saya pernah bertemu dengan remaja gaul, asyik, cerdas dan berpotensi berminat pada ilmu pengetahuan. Anak ini senang meneliti biota laut, air tawar dan ekosistem di dalamnya. Ada juga remaja-remaja gaul yang gemar menulis dan menjadi kompasianer, bahkan bisa menjalin persahabatan dengan seorang Ketua DPR. Ada anak tetangga yang suka mengotak-atik mesin dan modifikasi body mobil, sehingga hobinya menjadi pekerjaan dan masih muda bisa cari uang sendiri dengan hobinya itu!

Wawasan dan cara berpikir remaja memang harus diarahkan.
Minimal, jangan dijor atau diberikan semua fasilitas kemewahan dunia kepadanya.
Kemandirian, menggali hobi dan potensi, membuat sebuah karya yang berguna atau belajar tetap konsisten pada sebuah keputusan. Menjadi lebih berguna baik buat diri, atau orang lain.

Gaul ya gaul, tapi bukan gaul sembarangan, bukan gaul menjerumuskan juga gaul bebas semau gue. Gaul menambah pengetahuan, membuka wawasan, atau yang menambah isi kantong dengan cara halal.

Gaul? Siap takut!

Salam Gaul
Denpasar, 29 Oktober 2011
Agung Soni
Source : http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/29/anak-gaul-masa-kini-benar-benar-gaul/

0 komentar:

Silahkan isi komentar..!